
Mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) diperkenalkan pada pentingnya sistem penjaminan mutu perguruan tinggi melalui sesi Pengenalan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dalam rangkaian Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) Mahasiswa Baru Tahun 2026, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 14.30–15.15 WITA tersebut menghadirkan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UNIMOF, Magdalena Dhema, M.Pd., sebagai narasumber. Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru mendapatkan pemahaman mengenai Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP), serta akreditasi perguruan tinggi.
Materi diawali dengan pertanyaan sederhana mengenai seperti apa gambaran kampus yang bermutu. Dari pertanyaan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa mutu perguruan tinggi tidak hanya dapat dilihat dari gedung maupun kelengkapan fasilitas. Mutu mencakup keseluruhan proses dan layanan pendidikan yang diterima mahasiswa selama menjalani masa studi.
Kualitas pembelajaran, kompetensi dosen, relevansi kurikulum, pelayanan akademik, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, prestasi mahasiswa, tata kelola perguruan tinggi, kompetensi lulusan hingga kepuasan mahasiswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mutu perguruan tinggi.
Pemahaman tersebut menjadi penting karena mahasiswa merupakan salah satu pihak yang secara langsung merasakan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Mulai dari pertama kali memasuki lingkungan kampus, mengikuti perkuliahan, menggunakan layanan akademik, mengikuti kegiatan kemahasiswaan, hingga menyelesaikan studi.
Mengenal SPMI dan Siklus PPEPP
Dalam pemaparannya, Magdalena menjelaskan SPMI sebagai sistem yang digunakan perguruan tinggi untuk memastikan, menjaga, mengevaluasi, mengendalikan, dan meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
SPMI, kata dia, bukan sekadar dokumen atau prosedur administratif. Sistem tersebut menjadi mekanisme bagi perguruan tinggi untuk mengenali persoalan, melakukan evaluasi, mengambil tindakan perbaikan, serta memastikan perbaikan tersebut terus dilakukan.
Untuk memberikan gambaran yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa, penerapan SPMI dijelaskan melalui contoh sederhana. Salah satunya ketika mahasiswa mengalami kendala jaringan internet kampus.
Persoalan tersebut tidak berhenti pada penyampaian keluhan. Melalui sistem penjaminan mutu, keluhan dapat dikumpulkan sebagai bahan evaluasi, kemudian masalah dianalisis untuk mengetahui penyebabnya. Setelah itu dilakukan tindakan perbaikan dan hasilnya dievaluasi kembali.
Apabila hasil perbaikan belum sesuai dengan yang diharapkan, perguruan tinggi dapat melakukan tindakan lanjutan. Dengan demikian, penyelesaian persoalan tidak dilakukan secara sesaat, tetapi menjadi bagian dari proses perbaikan yang terencana, terdokumentasi dan berkelanjutan.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan siklus PPEPP yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan SPMI. Siklus tersebut terdiri atas Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan.
Penerapan siklus tersebut dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas akademik. Misalnya, kampus menetapkan standar kehadiran mahasiswa, kemudian standar tersebut dilaksanakan dalam proses perkuliahan. Selanjutnya, tingkat kehadiran dievaluasi. Jika ditemukan persoalan, dilakukan pengendalian melalui pembinaan atau langkah sesuai ketentuan. Hasil evaluasi dan pengendalian kemudian menjadi dasar untuk melakukan peningkatan.
Siklus tersebut berjalan secara berkelanjutan sehingga mutu tidak berhenti pada satu pencapaian, melainkan terus diperbaiki sesuai kebutuhan dan perkembangan perguruan tinggi.
Mahasiswa sebagai Bagian dari Budaya Mutu
Dalam sesi tersebut, mahasiswa baru juga diajak memahami bahwa penjaminan mutu bukan hanya menjadi tanggung jawab pimpinan universitas maupun LPM. Budaya mutu membutuhkan keterlibatan seluruh sivitas akademika, termasuk fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni dan pengguna lulusan.
Mahasiswa memiliki peran penting dalam proses tersebut. Mengikuti pembelajaran dengan baik, mematuhi standar akademik, menjaga integritas akademik, memberikan kritik dan saran secara konstruktif, mengisi survei kepuasan secara jujur, menjaga fasilitas kampus serta berpartisipasi dalam evaluasi pembelajaran merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa terhadap mutu perguruan tinggi.
Mahasiswa juga diingatkan agar tidak menganggap survei kepuasan sebagai formalitas. Umpan balik yang diberikan secara jujur dapat menjadi data bagi perguruan tinggi untuk mengetahui hal-hal yang sudah berjalan baik maupun aspek yang masih perlu diperbaiki.
“Kalian bukan hanya pengguna layanan pendidikan. Kalian adalah bagian dari proses membangun mutu perguruan tinggi,” ujar Magdalena Dhema.
SPMI dan Akreditasi Saling Berkaitan
Selain SPMI, mahasiswa baru mendapatkan pemahaman mengenai akreditasi perguruan tinggi. Akreditasi merupakan proses penilaian terhadap kelayakan dan mutu perguruan tinggi atau program studi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Magdalena menjelaskan perbedaan antara SPMI dan akreditasi. SPMI merupakan sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan secara internal dan berkelanjutan oleh perguruan tinggi. Sementara itu, akreditasi merupakan bentuk penilaian eksternal terhadap kelayakan dan mutu perguruan tinggi atau program studi melalui lembaga akreditasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Keduanya memiliki hubungan yang erat. Pelaksanaan SPMI yang baik dapat membantu perguruan tinggi membangun budaya mutu, menghasilkan data dan bukti pelaksanaan yang terdokumentasi, serta mempersiapkan institusi menghadapi proses akreditasi.
Namun, SPMI tidak semestinya dijalankan hanya karena perguruan tinggi akan menghadapi akreditasi. SPMI merupakan proses berkelanjutan untuk menjaga dan meningkatkan mutu, sedangkan akreditasi menjadi salah satu bentuk penilaian terhadap mutu dan kelayakan yang telah dilaksanakan.
Mahasiswa juga diajak melihat akreditasi dari perspektif yang lebih luas. Akreditasi bukan sekadar predikat yang tercantum pada laman resmi perguruan tinggi, tetapi berkaitan dengan kepercayaan terhadap institusi dan program studi, kualitas proses pendidikan, pengakuan mutu, reputasi perguruan tinggi serta masa depan lulusan.
Membangun Budaya Mutu Sejak Hari Pertama
Pada bagian akhir sesi, mahasiswa baru diajak mengubah cara pandang bahwa mutu bukan semata-mata “tugas kampus”, melainkan menjadi bagian dari budaya bersama.
Mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir dalam perkuliahan, tetapi aktif dalam proses pembelajaran. Tugas tidak sekadar diselesaikan untuk memenuhi kewajiban, tetapi dikerjakan secara jujur dan berkualitas. Ketika menemukan persoalan, mahasiswa juga diharapkan menyampaikannya melalui mekanisme yang tepat.
Sebagai bagian dari penguatan pemahaman tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan lima prinsip budaya mutu mahasiswa, yakni mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas akademik, memberikan umpan balik yang jujur, menjaga lingkungan dan fasilitas kampus, serta menjadi bagian dari proses perbaikan mutu.
Melalui pengenalan LPM dalam rangkaian OKK 2026, mahasiswa baru UNIMOF diharapkan tidak hanya mengenal struktur dan fungsi lembaga di lingkungan kampus, tetapi juga memahami bagaimana mutu dibangun dalam kehidupan akademik sehari-hari.
Kesadaran tersebut diharapkan tumbuh sejak awal masa perkuliahan. Dengan keterlibatan mahasiswa bersama seluruh sivitas akademika, budaya mutu di UNIMOF dapat terus dijaga, dievaluasi dan ditingkatkan secara berkelanjutan demi menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas serta berorientasi pada kebutuhan mahasiswa dan masa depan lulusan.

