
Mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) Tahun 2026 mendapatkan pembekalan mengenai literasi keuangan dasar dalam rangkaian kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) 2026, Rabu (16/9/2026). Materi yang berlangsung pukul 10.15–11.15 WITA di lingkungan Universitas Muhammadiyah Maumere tersebut membahas pengelolaan keuangan pribadi, keamanan transaksi digital, risiko pinjaman online (pinjol) ilegal, investasi ilegal, serta berbagai bentuk fraud.
Materi literasi keuangan disampaikan oleh Maggie Stephanie Parera, First Senior Manager BRI KCP Maumere. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa baru UNIMOF Tahun 2026 sebagai bagian dari pembekalan awal sebelum menjalani kehidupan akademik dan kemahasiswaan di perguruan tinggi.
Dalam pemaparannya, Maggie menekankan pentingnya mahasiswa memiliki kemampuan dasar dalam mengelola keuangan pribadi. Kehidupan sebagai mahasiswa, menurut materi yang disampaikan, tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga kecakapan dalam mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.
Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah keamanan informasi dalam transaksi digital. Mahasiswa diingatkan agar menjaga kerahasiaan informasi perbankan dan data pribadi, termasuk User ID, PIN, password, serta kode One-Time Password (OTP).
Mahasiswa juga diarahkan untuk lebih berhati-hati ketika melakukan transaksi melalui perangkat maupun jaringan internet. Penggunaan jaringan Wi-Fi publik untuk mengakses layanan internet banking perlu dihindari. Selain itu, mahasiswa diminta tidak sembarangan mengunduh file, aplikasi, maupun perangkat lunak dari sumber yang tidak jelas karena dapat meningkatkan risiko pencurian data dan penyalahgunaan informasi pribadi.
Pembahasan kemudian berlanjut pada risiko pinjaman online ilegal. Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa seseorang dapat terjerat pinjol ilegal karena berbagai faktor, antara lain kesulitan keuangan, rendahnya penghasilan, kebiasaan “gali lubang tutup lubang”, serta rendahnya literasi mengenai produk dan legalitas layanan keuangan.
Mahasiswa diperkenalkan dengan sejumlah karakteristik pinjaman online ilegal yang perlu diwaspadai. Di antaranya tidak memiliki izin resmi, informasi mengenai biaya dan denda tidak transparan, meminta akses berlebihan terhadap data dalam perangkat, serta pola penagihan yang dapat disertai ancaman, intimidasi, atau penyebaran data pribadi.
Sebaliknya, layanan fintech pendanaan legal memiliki identitas dan alamat yang jelas, menyediakan layanan pengaduan konsumen, memberikan informasi mengenai biaya secara transparan, serta berada dalam kerangka pengawasan regulator sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain pinjaman online, mahasiswa juga diberikan pemahaman mengenai investasi ilegal. Beberapa ciri yang dibahas antara lain adanya janji keuntungan yang tidak wajar dalam waktu singkat, klaim investasi tanpa risiko, legalitas yang tidak jelas, serta pemberian bonus yang dikaitkan dengan perekrutan anggota baru.
Pemateri juga menjelaskan bahwa rendahnya literasi keuangan, promosi melalui media sosial, serta keinginan memperoleh keuntungan besar secara cepat dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap tawaran investasi ilegal.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak mengambil keputusan finansial hanya berdasarkan ajakan, promosi, atau informasi yang beredar di media sosial. Setiap tawaran layanan keuangan perlu diperiksa terlebih dahulu, termasuk legalitas, identitas penyelenggara, mekanisme layanan, biaya, serta risiko yang mungkin muncul.
Maggie Stephanie Parera menekankan agar mahasiswa tidak memberikan informasi rahasia kepada pihak lain dan tidak mudah tergoda oleh tawaran yang menjanjikan hadiah, keuntungan tinggi, maupun kemudahan memperoleh pinjaman.
“Kenali layanan keuangan yang digunakan, jaga kerahasiaan data pribadi, dan jangan mudah percaya pada iming-iming keuntungan atau kemudahan yang tidak jelas.”
Melalui materi tersebut, mahasiswa baru UNIMOF diharapkan memiliki kesadaran untuk menjaga keamanan data pribadi sekaligus membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak berada di bangku kuliah.
Literasi keuangan juga diharapkan dapat membantu mahasiswa mengenali berbagai risiko dalam ekosistem keuangan digital. Dengan pemahaman tersebut, mahasiswa dapat lebih kritis ketika menerima tawaran pinjaman, investasi, hadiah, maupun bentuk transaksi digital lainnya yang belum diketahui legalitas dan keamanannya.
Kegiatan literasi keuangan dasar dalam rangkaian OKK 2026 ini menjadi bagian dari upaya memberikan bekal praktis kepada mahasiswa baru. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak hanya berguna selama menjalani perkuliahan, tetapi juga menjadi dasar bagi mahasiswa dalam mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab di masa mendatang.
Dengan demikian, mahasiswa baru UNIMOF diharapkan tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan, menjaga keamanan informasi pribadi, serta mampu mengenali dan menghindari berbagai risiko pinjaman ilegal, investasi ilegal, dan fraud.


