UNIMOF Jadi Pusat Koordinasi Penanganan Bencana Sikka, Sinergi Lintas Lembaga Diperkuat
Berita

UNIMOF Jadi Pusat Koordinasi Penanganan Bencana Sikka, Sinergi Lintas Lembaga Diperkuat

03/09/2026
Admin UNIMOF
5 menit baca
Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) menjadi pusat koordinasi dalam rapat penanggulangan bencana Kabupaten Sikka yang mempertemukan pemerintah, l

Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) menjadi pusat koordinasi dalam rapat penanggulangan bencana Kabupaten Sikka yang mempertemukan pemerintah, lembaga kemanusiaan, relawan, serta organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat langkah penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak bencana.

Rapat koordinasi penanggulangan bencana tersebut dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2025, pukul 16.00 WITA bertempat di Universitas Muhammadiyah Maumere. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur, di antaranya unsur pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Direktorat Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB, serta sejumlah organisasi kemanusiaan seperti MDMC, Dompet Dhuafa, PMPB NTT, Rumah Zakat, Komunitas Fajar Sikka, Pos Terpadu GMIT Maumere, HI, AMCF, CARITAS Indonesia, dan PMI.

Dalam koordinasi tersebut, disepakati bahwa penanganan bencana Kabupaten Sikka dilakukan melalui satu pintu koordinasi dengan Posko Penanggulangan Darurat Bencana BPBD Kabupaten Sikka sebagai garda terdepan. Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Maumere ditetapkan sebagai home base atau pusat koordinasi bersama bagi relawan dan organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam proses penanganan bencana.

Penetapan UNIMOF sebagai pusat koordinasi menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mendukung upaya kemanusiaan di Kabupaten Sikka. Melalui fasilitas yang tersedia, UNIMOF berperan sebagai ruang kolaborasi berbagai pihak untuk menyusun strategi penanganan, berbagi informasi, serta memperkuat koordinasi antarorganisasi yang terlibat.

Dalam rapat tersebut, Maswir ditunjuk sebagai focal point yang bertanggung jawab dalam pengelolaan tempat dan operasional posko koordinasi. Selain itu, Tim Pendamping Nasional melalui Pos Pendamping Nasional turut memberikan arahan serta pendampingan kepada BPBD Kabupaten Sikka dalam menjalankan proses penanggulangan bencana.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat, jumlah masyarakat yang terdampak dan mengungsi akibat bencana di Kabupaten Sikka mencapai 1.294 kepala keluarga atau sebanyak 4.665 jiwa. Pengungsi tersebut tersebar di beberapa wilayah, yakni Kecamatan Palue sebanyak 892 kepala keluarga dengan 3.340 jiwa, Kecamatan Nita sebanyak 20 kepala keluarga dengan 69 jiwa, serta Kecamatan Waigete (Bakangin) sebanyak 382 kepala keluarga dengan 1.256 jiwa.

Selain menyebabkan masyarakat harus mengungsi, bencana juga berdampak terhadap kondisi tempat tinggal warga. Data kerusakan rumah mencatat sebanyak 939 unit mengalami rusak berat, 852 unit rusak sedang, dan 2.457 unit mengalami rusak ringan dengan tingkat kerusakan mencapai atau lebih dari 30 persen.

Dalam aspek pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, koordinasi juga membahas distribusi logistik, khususnya pemanfaatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Kabupaten Sikka memperoleh alokasi CBP sebanyak 100 ton dari Bulog, dengan 28 ton telah diakses melalui tahap kedua penyaluran. Mekanisme pengajuan bantuan dilakukan melalui Posko BPBD dengan melampirkan daftar penerima berdasarkan nama dan alamat (by name by address).

Rapat juga memberikan perhatian terhadap perlindungan kelompok rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, penyandang disabilitas, dan kelompok lanjut usia. Pendataan khusus terhadap kelompok tersebut menjadi prioritas karena sebagian data belum tercatat secara rinci dalam data Dukcapil. Untuk mendukung proses tersebut, petugas Dukcapil akan diintegrasikan langsung ke posko klaster pengungsian.

Selain perlindungan kelompok rentan, aspek pendidikan dan pemulihan psikososial juga menjadi perhatian dalam penanganan bencana. Layanan pendidikan bagi anak-anak tetap dilaksanakan di wilayah pengungsian melalui kerja sama dengan PMI dan P2TP2A. Sementara itu, pendampingan psikososial atau trauma healing diperlukan bagi anak-anak maupun orang tua yang masih mengalami trauma dan kekhawatiran untuk kembali ke rumah.

Melalui kolaborasi lintas sektor, berbagai organisasi masyarakat sipil didorong untuk mengambil peran dalam klaster penanganan, mulai dari pengungsian, kesehatan, pendidikan, WASH (air bersih dan sanitasi), hingga pemulihan dini. Sinergi tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi secara efektif dan berkelanjutan.

Sebagai institusi pendidikan yang hadir di tengah masyarakat, Universitas Muhammadiyah Maumere terus mendukung berbagai upaya kemanusiaan melalui penyediaan ruang koordinasi dan penguatan kerja sama bersama berbagai pihak. Melalui semangat kolaborasi, penanganan bencana di Kabupaten Sikka diharapkan dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak.

Tag

#Universitas Muhammadiyah Maumere#UNIMOF#penanganan bencana Sikka#Kabupaten Sikka#koordinasi bencana#BNPB#BPBD Sikka#bantuan kemanusiaan#relawan bencana#pengungsi Sikka#kolaborasi kemanusiaan