UNIMOF Tanamkan Integritas Akademik, Maba Diajak Cerdas Memanfaatkan Teknologi AI
Kegiatan

UNIMOF Tanamkan Integritas Akademik, Maba Diajak Cerdas Memanfaatkan Teknologi AI

17/09/2026
Admin UNIMOF
5 menit baca
Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) terus memperkuat pemahaman mahasiswa baru terhadap pentingnya integritas akademik melalui rangkaian kegiatan

Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) terus memperkuat pemahaman mahasiswa baru terhadap pentingnya integritas akademik melalui rangkaian kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) Mahasiswa Baru Tahun 2026. Salah satu materi yang diberikan adalah Literasi Akademik & Etika Akademik yang membahas berbagai isu penting, mulai dari plagiarisme, copyright, penggunaan Artificial Intelligence (AI), sitasi, hingga penyusunan daftar pustaka.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (17/9/2026) pukul 11.15–12.00 WITA bertempat di Hall DZA Universitas Muhammadiyah Maumere. Materi disampaikan oleh Zakaria Al Farizi, M.Pd. dan diikuti oleh mahasiswa baru UNIMOF Tahun 2026 sebagai bagian dari pembekalan awal memasuki dunia perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Zakaria mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa kehidupan akademik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan tugas, tetapi juga bagaimana mahasiswa menghasilkan karya secara jujur, bertanggung jawab, dan menghargai karya intelektual orang lain.

Pembahasan diawali dengan pertanyaan reflektif yang menarik perhatian mahasiswa, yaitu “Kalau ChatGPT yang membuat jawabannya, apakah tugas itu masih bisa disebut karya kalian?” Pertanyaan tersebut menjadi pengantar untuk membangun kesadaran bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI, harus diiringi dengan pemahaman terhadap etika akademik.

Menurut Zakaria, teknologi AI bukan sesuatu yang harus dihindari oleh mahasiswa. Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara bijak dan tetap menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan.

“AI itu tidak haram bagi mahasiswa, tetapi bagaimana kita menggunakan AI?” ujar Zakaria dalam memberikan pesan utama kepada mahasiswa baru.

Ia menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, asisten dalam mencari ide, maupun membantu proses belajar mahasiswa. Namun, mahasiswa tetap harus melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh, memastikan sumber dapat dipercaya, serta memahami isi dari setiap karya akademik yang dibuat.

Selain membahas penggunaan AI, materi juga mengangkat persoalan plagiarisme yang masih menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan tinggi. Mahasiswa diberikan beberapa contoh kasus, seperti mengambil gambar dari internet tanpa mencantumkan sumber atau menyalin paragraf dari jurnal dengan hanya mengganti beberapa kata agar terlihat berbeda.

Melalui contoh tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa tindakan mengambil gagasan, tulisan, maupun karya orang lain tanpa memberikan penghargaan terhadap sumbernya dapat termasuk dalam bentuk plagiarisme.

Sebagai alternatif, mahasiswa diperkenalkan dengan praktik akademik yang benar, yaitu membaca dan memahami sumber referensi terlebih dahulu, kemudian menyampaikan kembali gagasan tersebut menggunakan bahasa sendiri dengan tetap mencantumkan sumber rujukan. Cara tersebut menjadi bagian dari proses parafrasa yang baik dan menunjukkan penghargaan terhadap karya ilmiah orang lain.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pentingnya sikap kritis dalam menggunakan AI. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diberikan contoh bagaimana AI dapat menghasilkan referensi akademik yang perlu diperiksa kembali kebenarannya. Pemateri menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh menerima informasi dari AI secara langsung tanpa melakukan pengecekan terhadap sumber asli.

“Ketika menggunakan AI untuk membantu mencari informasi atau referensi, mahasiswa harus memastikan sumber tersebut benar-benar ada dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Zakaria.

Selain itu, mahasiswa juga diberikan pemahaman mengenai hubungan antara sitasi dan daftar pustaka. Pemateri menjelaskan bahwa setiap informasi, teori, atau gagasan yang berasal dari karya orang lain harus dicantumkan melalui sitasi dalam teks dan dilengkapi dengan informasi bibliografis pada daftar pustaka.

Melalui contoh penggunaan sitasi seperti (Halliday et al., 2014), mahasiswa diperkenalkan bahwa pencantuman sumber bukan hanya sekadar aturan penulisan, tetapi merupakan bentuk penghargaan terhadap pemilik gagasan serta bagian dari menjaga kejujuran akademik.

Kegiatan Literasi Akademik & Etika Akademik ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai plagiarisme, copyright, penggunaan AI secara bertanggung jawab, serta pentingnya sitasi dalam menghasilkan karya ilmiah. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa agar mampu berpikir kritis dalam menilai informasi dan referensi yang digunakan selama proses pembelajaran.

Di akhir sesi, mahasiswa diberikan tiga nilai utama yang menjadi bekal dalam menjalani kehidupan akademik, yaitu CERDAS, KRITIS, dan BERTANGGUNG JAWAB. Ketiga nilai tersebut diharapkan menjadi karakter mahasiswa UNIMOF dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Melalui pembekalan ini, mahasiswa baru UNIMOF diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar, tetapi juga memahami batasan etika dalam penggunaannya. Mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya akademik yang berkualitas dengan tetap menjunjung tinggi kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.

Dengan adanya kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Maumere berkomitmen membangun budaya akademik yang kuat sejak awal perjalanan mahasiswa di perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi, termasuk AI, diharapkan menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran selama tetap berjalan sesuai prinsip etika akademik.

Tag

#UNIMOF#Universitas Muhammadiyah Maumere#mahasiswa baru 2026#OKK UNIMOF#literasi akademik#etika akademik#penggunaan AI#plagiarisme#sitasi#integritas akademik