
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertema "Peran Guru PKN dalam Membangun Kesadaran Hukum dan Demokrasi Melalui Pendidikan Kewarganegaraan" pada Senin (29/6/2026) di Aula Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Maumere.
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta tersebut dibuka secara resmi oleh Deputi Rektor Universitas Muhammadiyah Maumere, Drs. Daniel Fernandes, M.Si. Seminar ini menjadi wadah akademik bagi mahasiswa, dosen, praktisi pendidikan, serta peserta lainnya untuk memperluas wawasan mengenai pentingnya pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk generasi yang sadar hukum, demokratis, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

Dalam sambutannya, Drs. Daniel Fernandes, M.Si. memberikan apresiasi kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan yang telah menginisiasi penyelenggaraan seminar nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya akademik di lingkungan Universitas Muhammadiyah Maumere. Menurutnya, kegiatan ilmiah seperti seminar nasional memiliki peran strategis dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa sekaligus mempersiapkan calon pendidik yang mampu menjawab tantangan dunia pendidikan di era yang terus berkembang.
Seminar menghadirkan tiga narasumber yang membahas berbagai perspektif mengenai peran strategis guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam menanamkan nilai-nilai hukum, demokrasi, serta karakter kebangsaan kepada peserta didik. Salah satu narasumber utama adalah Dr. Dikdik Baehaqi Arif, S.Pd., M.Pd., dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Dalam pemaparannya, Dr. Dikdik menegaskan bahwa perubahan merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap pendidik. Guru, menurutnya, tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik.
"Berubah atau diubah. Karena jika kita tidak mau berubah, maka kita akan diubah oleh perubahan itu sendiri," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya inovasi dalam proses pembelajaran agar pendidikan tetap relevan dengan dinamika masyarakat.
"Jangan mengajar muridmu seperti gurumu mengajarmu. Sesuaikanlah pembelajaran dengan kebutuhan dan perkembangan zaman yang dihadapi peserta didik saat ini," pesannya.
Usai sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi dengan mengajukan berbagai pertanyaan, memberikan tanggapan terhadap materi yang disampaikan, serta berdiskusi secara aktif bersama para narasumber. Tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya perhatian terhadap pentingnya pendidikan kewarganegaraan sebagai sarana membangun kesadaran hukum dan budaya demokrasi di Indonesia.

Ketua Panitia Seminar Nasional, Paulin Alfantina Nelci, menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini melibatkan lima tim kepanitiaan yang bekerja selama kurang lebih 30 hari untuk mempersiapkan seluruh rangkaian acara. Berkat kerja sama panitia, dukungan dosen, dan berbagai pihak, seminar nasional dapat terlaksana dengan lancar dan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai peran guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam membangun kesadaran hukum dan demokrasi di tengah masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman, gagasan, serta inovasi pembelajaran antara akademisi, praktisi pendidikan, mahasiswa, dan masyarakat dalam mengembangkan pembelajaran PKn yang kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ke depan, panitia berharap Seminar Nasional seperti ini dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan sebagai forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, praktisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, serta hasil penelitian di bidang Pendidikan Kewarganegaraan. Melalui kegiatan semacam ini diharapkan lahir berbagai inovasi pembelajaran yang mampu memperkuat karakter kebangsaan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Menutup kegiatan tersebut, Dr. Dikdik memberikan pesan kepada seluruh mahasiswa sebagai calon guru Pendidikan Kewarganegaraan agar terus mengembangkan kompetensi dan menjadi agen perubahan di lingkungan pendidikan.
"Kesadaran hukum harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan kewarganegaraan. Dengan demikian, kita sedang mempersiapkan generasi muda yang taat hukum, berpikir kritis, bertanggung jawab, dan memiliki semangat demokrasi. Mari bersama-sama kita wujudkan Indonesia yang taat hukum, dimulai dari ruang kelas," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait

UNIMOF Tanamkan Integritas Akademik, Maba Diajak Cerdas Memanfaatkan Teknologi AI

Maba UNIMOF Praktik Menelusuri Referensi, Asah Kemampuan Menemukan Sumber Ilmiah Sesuai Bidang Studi

