
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Sinergi Budaya dan Teknologi dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Literasi Numerasi” pada Sabtu (20/6/2026) di Aula Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Maumere. Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta ini menjadi ruang akademik untuk membahas berbagai inovasi pembelajaran matematika yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya lokal.
Seminar yang berlangsung sejak pukul 07.30 WITA hingga selesai tersebut dibuka secara resmi oleh Deputi Rektor Universitas Muhammadiyah Maumere, Drs. Daniel Fernandes, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara budaya dan teknologi sebagai fondasi dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing.
Menurutnya, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar akibat pesatnya perkembangan teknologi digital. Namun di sisi lain, pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa. Oleh karena itu, integrasi budaya lokal dan teknologi digital perlu dilakukan secara seimbang dalam proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran matematika.
“Budaya dan teknologi harus berjalan beriringan. Pendidikan perlu mampu memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi jati diri masyarakat,” ungkapnya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi seminar yang menghadirkan enam narasumber dari berbagai perguruan tinggi dan praktisi pendidikan. Para narasumber membagikan pengalaman, hasil penelitian, serta berbagai inovasi pembelajaran yang berkaitan dengan penguatan literasi numerasi melalui pendekatan budaya dan teknologi.
Salah satu narasumber utama, Prof. Dr. Mochamad Yus Cholily, M.Si., Guru Besar Pendidikan Matematika, menyampaikan materi yang menyoroti pentingnya kesiapan dunia pendidikan dalam menghadapi perubahan yang terus berlangsung. Menurutnya, perubahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari sehingga seluruh elemen pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Berubah atau diubah. Karena jika kita tidak mau berubah, maka kita akan diubah oleh perubahan itu sendiri,” tegas Prof. Yus Cholily di hadapan peserta seminar.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa paradigma pembelajaran yang digunakan oleh pendidik saat ini perlu menyesuaikan karakteristik generasi peserta didik yang hidup di era digital. Metode pembelajaran yang efektif bukan lagi sekadar meniru pola pendidikan masa lalu, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan dan tantangan masa kini.
“Jangan mengajar muridmu seperti gurumu mengajarmu. Sesuaikanlah pembelajaran dengan kebutuhan dan perkembangan zaman yang dihadapi peserta didik saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Yus Cholily menegaskan bahwa budaya dan teknologi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan bermakna bagi peserta didik.
“Antara teknologi dan budaya, keduanya tidak dapat dipisahkan. Budaya merupakan warisan dari nenek moyang kita, dan pada akhirnya kita pun akan menjadi nenek moyang bagi generasi berikutnya. Karena itu, budaya harus tetap dijaga dan diwariskan seiring dengan pemanfaatan teknologi,” jelasnya.
Berbagai materi yang disampaikan dalam seminar mencakup pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran matematika, pemanfaatan teknologi digital sebagai media pembelajaran, strategi peningkatan literasi numerasi peserta didik, serta berbagai tantangan dan peluang pendidikan matematika di era transformasi digital.

Para narasumber juga memaparkan berbagai contoh penerapan budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Pendekatan tersebut dinilai mampu membantu peserta didik memahami konsep-konsep matematika secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui penggunaan media interaktif, aplikasi pembelajaran, dan berbagai platform digital yang mendukung proses belajar mengajar.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Hal ini tampak dari tingginya partisipasi peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai pertanyaan, tanggapan, serta pengalaman lapangan disampaikan oleh peserta terkait implementasi budaya dan teknologi dalam pembelajaran matematika di lingkungan masing-masing.
Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Tidak hanya membahas teori dan konsep, peserta juga mendiskusikan berbagai persoalan nyata yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, seperti rendahnya literasi numerasi peserta didik, kesenjangan akses teknologi, hingga upaya mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah derasnya arus digitalisasi.
Keberhasilan penyelenggaraan seminar ini tidak terlepas dari kerja keras panitia yang terdiri atas empat tim kepanitiaan. Selama kurang lebih 30 hari, panitia melakukan berbagai persiapan mulai dari perencanaan kegiatan, koordinasi narasumber, penyusunan agenda, publikasi, hingga pelaksanaan acara.
Melalui seminar ini, penyelenggara berharap peserta memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai pentingnya sinergi budaya dan teknologi dalam pembelajaran matematika. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan inovasi antara akademisi, praktisi pendidikan, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat dalam mengembangkan pembelajaran matematika yang kontekstual, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Seminar nasional ini menjadi bukti bahwa penguatan literasi numerasi tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi, tetapi juga melalui pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar yang kaya akan nilai edukatif. Dengan memadukan keduanya, pembelajaran matematika dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik sekaligus mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.
Ke depan, kegiatan seminar nasional serupa diharapkan dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan sebagai ruang akademik untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hasil penelitian di bidang pendidikan matematika. Selain itu, diharapkan semakin banyak inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan budaya lokal dan teknologi digital sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran matematika serta memperkuat literasi numerasi peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan.

Kegiatan ini juga diharapkan menjadi awal terjalinnya kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia yang unggul, berkarakter, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.
Tag
Berita Terkait

UNIMOF Tanamkan Integritas Akademik, Maba Diajak Cerdas Memanfaatkan Teknologi AI

Maba UNIMOF Praktik Menelusuri Referensi, Asah Kemampuan Menemukan Sumber Ilmiah Sesuai Bidang Studi

